Showing posts with label Merenung Sejenak. Show all posts
Showing posts with label Merenung Sejenak. Show all posts

20 July 2009

Jalan Yang Ku Lalui

Ini sebuah cerita pendek
Tentang jalan yang ku lewati...setiap aku berangkat kerja...
Saat keluar rumah...jalan itu cukup halus, walau belum di aspal...
Kemudian, jalan berbatu-batu...sama sekali tidak nyaman untuk di lalui...
Lalu...jalan raya, beraspal, yang sangat mulus...(tapi lebih2 kulitku lho! ehm...)
Trus...ada jalan yang naiiiik....wow....lalu turuuuun....
Kemudian, naiiiik lagiiiii.....lalu turuuun lagiii....
Setelah itu luruuuus...mulus....sampailah di persimpangan empat,
lalu aku belok ke kiri...jalannya cukup enak dilalui...
Tiba lagi di bersimpangan empat, biasanya tiap kali sampai di sini,
aku pasti kena lampu merah! (harus sabaaar mbaakyu...)
Trus, belok ke kanan...langsung belok ke kiri....mulai memasuki zona yang tidak nyaman lagi!
Setelah enak dapat jalan mulus...harus menghadapi jalan yang tidak menyenangkan!!!
Berbatu-batu...besar-besar sekali dan berlubang-lubang juga!!!
Pernah sekali, ban sepeda motorku gembos di situ...
yang mengakibatkan aku harus ganti ban dalam, karena bannya pecah!!!
Ya ampun! Pagi-pagi, sepeda motorku dah sarapan Rp. 30.000,- nie!
Aku aja belum sempat sarapan tuh...ih, menyebalkan!
Akhirnya jalan mulus kembali...melewati sebuah jembatan...naik,
kemudian langsung ke kiri...lalu ke kanan...teruuuuus aja...jalannya cukup lumayan,
tapi ada bau sampah yang kadang-kadang menyengat hidungku...
maklum...jalannya kecil dan di daerah perkampungan...
Luruuuuuus aja....dari jauh, nampak Hotel di mana aku bekerja!
Sampaiiii deh.....

Dari setiap jalan yang ku lalui menuju kantor...
Ternyata pagi ini, aku memperoleh hikmat yang tak terduga...dari-NYA
Lihatlah anak-KU...jalan yang kau lalui...
Resapilah apa yang kau rasakan, setiap kau melewati jalan-jalan itu...
Demikian pula hidup mu...yang harus kau jalani...ketika kau mengikuti AKU
Kadang kau merasa nyaman dan senang...
Kadang kau merasa susah dan merasa berat melewatinya...
Kadang kau harus berhenti sejenak...menenangkan dirimu...dalam keheningan
Kadang ada pergumulan yang harus kau lalui...sehingga kau harus mengorbankan apa yang kau miliki...
Begitulah jalan-KU...untukmu, anak-KU...
Tidak selamanya indah mengikuti-KU...
Kau harus kuat melewati semuanya itu...bila ingin sampai kepada-KU
Percayalah...AKU lah yang menyertai setiap jalanmu
dan yang membakar dirimu, agar selalu berkobar-kobar mencintai-KU...
dan mau mengikuti jalan yang KU sediakan bagimu...anak-KU!

06 June 2009

Ketika Hati Gundah Gulana

Kuatir? Untuk apa kuatir? Apa untungnya kuatir?
Itu tak kan mencegah datangnya kesusahan
Itu malah membuat pencernaanmu kurang baik dan susah tidur
Dan membuat hari-hari yang secerah apapun tampak suram

Itu hanya membuat keningmu berkerut
Nada bicaramu tajam
Kita menjadi tidak rukun hidup bersama orang lain
dan tidak tenang hidup sendirian
Kuatir? Untuk apa kuatir? Apa untungnya kuatir?
Itu tak kan mencegah datangnya kesusahan

Berdoa? Untuk apa berdoa?
Apa untungnya berdoa?
Berdoa sungguh mengubah segalanya
Membaharui kehidupanmu
Itu baik untuk pencernaanmu, membuat tidurmu nyenyak
Dan membuat hari-hari yang sesuram apapun tampak cerah

Itu memberikan senyum di bibirmu
Nada kasih dalam bicaramu
Membuatmu rukun hidup dengan orang lain
dan tenang hidup sendirian
Berdoa? Untuk apa berdoa?
Apa untungnya berdoa?
Itu membuat Allah turun dari surga
untuk hidup dan berkarya denganmu

dari buku: "Dengan Doa, Segalanya Menjadi Mungkin" by Charles L. Allen

Gangguan Dalam Doa

Ah, Tuhan yang terkasih!
Aku tidak bisa berdoa
Angan-anganku terikat
Gangguan yang tak pantas datang
Memaksa pikiranku menyimpang dariMU

Aku masih belum bisa berdoa, Tuhan dan Engkau mengetahuinya
Hal yang menyakitkan bagiku
Mengalami pergumulan pikiran yang sia-sia
Yang memisahkan ku dari Engkau

Tuhan-ku yang agung
Ajarilah aku bagaimana menghargai waktu yang membosankan ini
Ketika aku bisu dan bodoh di depan WajahMU
Dalam dusta ibadah tanpa pengharapan

Dagingku benar-benar resah
Batinku menjadi lelah
Akupun berlutut, menghancurkan kedalamannya
Dalam pergulatan yang mempesona

Yang ku tau, ya Tuhan, Engkau seringkali hadir
Dalam doa yang kacau dan lemah
Seorang berdosa yang berdoa dari hatinya
Akan menemukan Engkau disana

Dunia yang tampak sangat suram sepanjang hari
Menjadi terang benderang ketika ku berdoa
Dan rencana yang tak ku pikir
Bangkit dan menemuiku

Harapan baru mulai hidup
Masa lampau dan masa depan bercampur dengan gembira
Ketika memikirkan Engkau
Damai seejahtera MU tinggal jauh di dalam

by: tere

05 March 2009

Tuhan Tidak Mau Berhutang

Cerita ini saya alami hari Senin, 2 Maret 2009 yang lalu. Saat pulang kerja, hujan turun dengan derasnya. Seperti biasanya, sepulang kerja, saya menuju ke tempat Taman Penitipan Anak (TPA) untuk menjemput anak-anak saya. Tetapi karena hujan yang cukup deras, saya pun menitipkan sepeda motor saya ke rumah seorang teman yang tidak jauh letaknya dari TPA, karena saya tidak berani dalam hujan menggonceng 2 anak sekaligus. Lalu, saya naik becak untuk menjemput anak-anak saya.

Sampai di TPA, saya-pun mengajak anak-anak saya untuk segera masuk ke dalam becak. Saat itu saya memperhatikan abang becak yang menggigil kedinginan, karena tidak memakai jas hujan. Kasihan si bapak, kataku dalam hati. Lalu becak-pun berjalan menuju rumah.

Sesampai di rumah, saat saya turun dari becak itu, seakan suara hati saya berbicara,"Berikan uang lebih pada abang becak untuk membeli jas hujan!" Saya sempat tertegun sejenak...dan spontan menjawab,"Ya, Tuhan? Beri berapa?" Saya lalu melihat ke dalam dompet saya, ada selembar uang 20 ribu Rupiah, langsung saya ambil.

Saya lalu memanggil si abang becak, untuk membayar ongkosnya. Kemudian, saya pun menyerahkan uang 20 ribu lagi kepadanya sambil mengatakan,"Bapak, uang ini buat beli jas hujan ya! Jangan lupa ya,Pak...kalau tidak pakai jas hujan nanti bisa sakit, sekarang obat sangat mahal, Pak!" Si abang becak agak terkejut dan kemudian sambil menunduk dia mengucapkan terima kasih.

Malam hari, saya ke sebuah Mall yang tidak jauh dari rumah, mengajak anak-anak saya untuk membelikan mereka sepatu sekolah. Kami berkeliling dalam Mall sekitar 2 jam, sampai akhirnya Mall mulai sepi karena waktu menunjukkan pk. 9 malam. Akhirnya saya dan anak-anak bergegas menuju lift untuk turun ke lantai bawah. Ada dua lift disana. Keduanya berhenti pada saat yang sama. Lalu saya memilih masuk dalam lift yang sebelah kiri, sepi, hanya saya dan anak-anak. Tapi betapa terkejutnya saya, ketika masuk dalam lift, saya melihat ada 2 lembar uang 10 ribu Rupiah di lantai lift tersebut! Saya pikir, itu hanya uang mainan anak-anak saja. Ketika saya mengambilnya, lha kok uang beneran! Spontan saya langsung teringat uang 20 ribu Rupiah yang saya berikan ke abang becak sore hari tadi...Ya, Tuhan!!!

Saya sangat terharu sekali dan menangis saat itu...saya tahu, ini adalah perbuatan Tuhan! Saya sangat yakin, kalau bukan Tuhan, tidak mungkin ini bisa terjadi...Saat itu juga, saya merasakan hadirat Tuhan dalam lift tersebut, sedang tersenyum memandang saya...

Tuhan, terima kasih...sekali lagi, Tuhan mau mengajarkan hikmat pada saya! Tuhan meminta saya untuk memiliki hati yang berbelas kasih kepada si abang becak dengan memberi uang 20 ribu Rupiah...dari hati saya. Ketika saya taat, Tuhan-pun mau mengembalikan 20 ribu Rupiah itu kepada saya..."Tuhan tidak mau berhutang pada saya!" pikir saya sambil tersenyum.

Seperti kata Mother Teresa," Setiap orang kristen diminta untuk banyak berbuat kebaikan selama hidupnya. Tetapi saat kita mati, Tuhan tidak akan menanyakan, seberapa banyak kebaikan yang sudah kita perbuat, tetapi yang Tuhan tanyakan adalah "SEBERAPA BESAR ENGKAU MELETAKAN HATIMU" dalam setiap perbuatan baik itu."

Semoga hikmat yang saya dapat hari ini, bisa menjadi berkat bagi Anda semua yang membacanya...Tuhan memberkati!

24 February 2009

Tujuh Keajaiban Dunia

Menurut buku "Senyuman Kumpulan 100 Cerita Bijak" bahwa tujuh keajaiban dunia bukanlah Taj Mahal di India, Piramida di Mesir, Tembok Besar China, Menara Pisa di Italia, Kuil Angkor, Candi Borobudur di Indonesia, Menara Eiffel di Prancis. Sebenarnya, tujuh keajaiban dunia ada di dalam diri manusia, bukan dari bangunan-bangunan tersebut.

Di dalam buku yang ditulis oleh Yustinus Sumantri Hp, SJ itu, disebutkan bahwa ada tujuh keajaiban dunia, yakni: 1) Bisa Melihat 2) Bisa Mendengar 3) Bisa Menyentuh 4) Bisa Menyayangi 5) Bisa Merasakan 6) Bisa Tertawa 7) Bisa Mencintai.

Alangklah mudahnya bagi kita untuk melihat pada eksploitasi manusia dan menyebutnya 'keajaiban'. Sementara kita hanya melihat semua yang dikaruniakan Tuhan kepada kita adalah 'biasa'. Semoga dengan tulisan ini, kita makin diingatkan tentang segala hal yang betul-betul ajaib dalam kehidupan kita. Amin

Diambil dari lembar SUARA Gereja Kelsapa, Surabaya, edisi Februari.